27 Juni 2008
Dahulu, ketika masih kuliah, aku memiliki sahabat-sahabat karib yang, sungguh, begitu berharga bagiku.

duch lagi engga ingin mengenang masa lalu, takut nangis

Kini, satu-persatu sahabat karibku mulai memisahkan diri dengan menikah. Bagiku, mendengar kabar sahabatku menikah adalah sesuatu yang begitu membahagiakan, tapi sekaligus membuat sedih. Bahagia karena melihat sahabatku bahagia, sedih karena kita tidak akan seperti dahulu lagi.

Selamat menempuh kehidupan baru sahabat-sahabatku
Sungguh, kebahagian kalian adalah kebahagiaanku pula
Semoga Allah membimbing langkah kalian untuk menjadi keluarga yang Sakinah, Mawaddah, Warahmah
Semoga Allah menghimpun kita untuk bercanda tawa kembali di Jannah-Nya kelak

nb: teruntuk sahabat terbaikku, Suhadi, Asmunip, Indri, dan Dinna.
26 Juni 2008
Semalam, mantan rekanku di Padma, SMS kepadaku, apakah uang pesangonnya sudah diterima belum? Aku katakan saja, belum aku cek ke ATM, Insya Allah besok.

Pagi tadi, aku ke ATM Mandiri untuk mengecek, apakah uang pesangon yang dijanjikan oleh Bapak Direktur Padma sudah ditransfer atau belum. Setiba aku di ATM Mandiri, subhanallah, aku tidak percaya dengan yang aku lihat dilayar, jumlah uang pesangon yang aku perkirakan sebelumnya, tidaklah sebesar dengan apa yang nampak dilayar. Duch, alhamdulillah Ya Allah, alhamdulillah, Maha Suci Engkau Ya Allah atas nikmat rezeki harta yang Engkau berikan padaku. Langsung saja aku ambil dua pertiganya untuk aku setorkan ke BSM, sebagai simpananku dimasa depan nanti. Dan aku masih bingung, bagaimana caranya aku mensyukuri nikmat ini. Ah, aku harus berbagi nikmat yang Allah berikan ini kepada yang membutuhkannya.

Dan, belum lagi nikmat gaji dari Perusahaan baru yang kutempati saat ini. Duch, sungguh tidak ada nikmatMu yang bisa aku dustakan Ya Allah.

Duhai Allah, Segala Puji BagiMu, atas nikmat rezeki harta yang Engkau limpahkan kepadaku ini. Duhai Rabb, jangan biarkan aku menjadi kikir terhadap nikmatMu. Jadikanlah aku hambaMu yang mensyukuri nikmatMu.
25 Juni 2008
Hari Selasa, 24 Juni 2008 Pukul 17.30, bersama risma (sebutan motor karisma), aku pulang kantor untuk menuju mesjid al-azhar. Dengan liukan yang aduhai, rismaku kuajak berlari meliuk sana meliuk sini dengan kecepatan yang luar biasa, sekitar 20-30 km/jam (ya iya lah..masa ya iya donk), melewati mobil-mobil, dan motor-motor yang terjebak macet. Sesampai Jl. Sudirman, kemacetan semakin menjadi-jadi, ada apa ini..rasa penasaran membuatku nekad menerobos kemacetan total itu. Bahkan Busway pun berhenti beroperasi, dan motorpun masuk jalur cepat dan jalur busway. Wuihh..makin penasaran ajah nich.

"Pak..kalo motor, lewat jalur bus way ajah, ga apa-apa". Sahut seorang yang tampak membantu mengatur kacaunya lalu lintas.

Wah, jadi semakin tertantang untuk lewat jalur bus way, kapan lagi coba motor bisa lewat jalur bus way. Ketika baru melaju beberapa langkah, di depan universitas atmajaya, Subhanallah, kulihat jejeran orang-orang berdiri dihadapanku, mungkin sekitar 50-80 orang. Dan, kulihat juga, satu mobil avanza plat merah terguling dan terbakar, mengeluarkan asap yang mengepul menjunjung langit. Rasa cemas pun menghampiriku, jikalau aku tetap melaju lewat jalur bus way ini, mungkin aku kena sasaran berikutnya. Ah, dari pada risma kesayanganku kenapa-kenapa mending lewat jalur biasa ajah, yang dilalui banyak kendaraan, biar macet, yang penting selamat.

"Ga apa-apa Pak, lewat jalur bus way ajah.."

Ga apa-apa mbok mu, didepan banyak orang gila begitu. Aku berkata "orang gila" karena memang mereka sudah gila. Demo menolak kenaikan BBM, tapi berlangsung anarkis. Sudah begitu, yang terpikirkan oleh ku, apa mereka tidak solat maghrib? Astaghfirullah.

Akhirnya, alhamdulillah, akupun sampai di mesjid al-azhar. Salah satu mesjid yang menjadi tempat aku untuk bertafakur dan merenungi hidup ini.

Makasih Ya Allah, Engkau memberikanku keselamatan sehingga sampai di al-Azhar. Dan tidak ada nikmatMu yang aku dustakan. Ampunilah aku yang sedikit sekali mensyukuri nikmatMu.
23 Juni 2008

Satu bulan lebih sudah aku mengontrak apartement (sebutan rumah susun) di sebuah daerah mampang yang penuh nuansa islami. Sebuah daerah yang apabila shubuh menjelang, banyak terdengar suara seorang yang sedang membaca al-Quran dari sebuah rumah penduduk. Sungguh, pemandangan yang jarang terjadi di kota metropolitan ini. Pemandangan ini, mengingatkan aku akan kampungku di Bandung sewaktu aku kecil dahulu. Jadi kangen.


Dengan biaya cukup terjangkau, Rp. 500 ribu, aku sudah bisa mengontrak apartement selama 1 bulan. Apartemenku terdiri atas 4 kamar, 1 kamar tidur, i ruang tamu, 1 dapur dan 1 kamar mandi. Cukuplah untuk nanti berkeluarga kelak, sambil menabung untuk membeli rumah idaman. Sehingga semakin bertambahlah keinginanku untuk menikah tahun ini (he3x..). Terlebih tetanggaku sesama apartemen, semuanya telah menikah dan rata-rata sudah mempunyai buah hati yang lucu-lucu.
Banyak hikmah yang aku dapatkan selama tinggal di apartemen ini, sebuah memoar yang membuat aku ingin terus memperbaiki diri.


Suatu hari, ketika aku ke warnet, subhanallah, aku mendapati seorang pemuda penjaga warnet, yang menghabiskan waktunya dengan membaca ayat-ayat Allah. Duch, betapa malunya diri ini kepada Allah. Jadi teringat, ketika aku melihat seorang penjual voucher yang ketika tidak ada pembeli, beliau membaca al-Quran. Subhanallah..kemana saja aku ini.
Ketika, aku shubuh berjamaah di masjid masjid al-Hikmah. Subhanallah, aku dapati banyak pemuda penghafal al-Quran. Duhai diri, kemana saja kamu ini?
Dengan hikmah ini, mudah-mudahan aku bisa untuk mencontoh mereka.

Terimakasih Ya Allah, Engkau sudah memberikan lingkungan tempat tinggal yang banyak mengingatMu, mudah-mudahan akupun termasuk kepada hamba-hambaMu yang banyak mengingatMu.